By: Patricia Kusumaningtyas |

Saya pertama kali mendengar lagu “Nyala” pada konser Sal Priadi di sebuah mal di Jakarta pada bulan Juli. Ya, seperti pertunjukan Sal Priadi lainnya, secara live ia bisa mempersembahkan yang sepantasnya kepada penonton melalui kata-kata yang dinyanyikan dalam rilisan digitalnya. Meskipun begitu, saya belum begitu memperhatikan lagu pembuka ini; pikiran saya masih terpaku pada “Amin Paling Serius” dan “Ikat Aku di Tulang Belikatmu,” dua lagu yang berbobot dan menyentuh perasaan pendengarnya.

Satu bulan kemudian, saya balik lagi untuk mengulik lagu “Nyala” ini. Saya ingat satu kejadian di awal semester dimana naratif hidup saya mengikuti secara persis naratif yang Sal bawa dalam lagu “Nyala”—ya, itu, rasanya hampir mati ditikam patah hati. Karena “Nyala” ini belum dibawakan dalam versi studio, saya harus berpaling ke YouTube dan mendengarkan satu-satunya versi live yang sreg di telinga saya, yaitu, versi live di The Pallas tanggal 2 Mei 2019 yang diunggah oleh Hasief Ardiasyah.

Apa yang bisa saya bilang dari video ini? Saya bisa dengan jelasnya merasakan massa yang Sal berikan pada kata-kata, ditambah dengan alunan piano Arnold Pontoh yang mencekam dan supporting vocal dari Natania Karin dan Odelia Sabrina yang, lagi-lagi, menambah kekuatan dari lagu tersebut. “Ini adalah hal yang paling pantas diucapkan sama orang-orang yang bikin kalian cemburu,” tutur Sal di tengah-tengah lagu tersebut. Di awal semester kemarin, saya mendengarkan versi YouTube ini hampir tiap hari (sampai menghabiskan kuota dan harus terus membuka ponsel sambil berjalan, karena musiknya akan berhenti jika saya mengunci ponsel saya), sambil berpikir, “Aduh, Sal, kapan ya ‘Nyala’ dirilis versi studionya?”

Fast forward ke enam bulan setelah itu—alhamdulillah, aliran perasaan saya sudah mereda. Beberapa hari yang lalu, Sal Priadi akhirnya merilis versi studio dari “Nyala.” Meskipun perasaan saya tidak segundah dulu, tidak sehebat enam bulan yang lalu, saya tetap mendengar versi studio “Nyala” ini dan saya kembali mengingat-ingat kenapa lagu ini sangat mempengaruhi hidup saya enam bulan yang lalu.

Saya ingat saya pernah mencoba menjelaskan liriknya kepada teman-teman berbahasa Inggris saya, namun pesannya tidak tersampaikan dengan sempurna. “Mari kita rayakan cemburu yang sedang ganas-ganasnya menyerang / tepat di ulu hatimu” dan “Aku ingin jadi jantungmu / dan berhenti semauku / agar kau tahu rasanya hampir mati ditikam patah hati” tidak se-ngena itu jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris (“Let us celebrate envy striking us right through the heart” dan “I want to be your heart and stop whenever I want so you’ll know how it feels to almost die of a broken heart”); jatuhnya tidak sekuat kata-kata ini dalam bahasa Indonesia, dan teman-teman saya berkomentar, “Nggak ah, cheesy banget.” (Atau mungkin saya masih harus belajar terjemahan sastra/sastra bandingan?) Tapi, hal inilah yang membuat Sal Priadi sungguh piawai dalam kata-katanya; Sal menggunakan bahasa Indonesia dengan segala potensinya, seakan memeras habis sebotol pasta gigi yang hampir habis, sampai-sampai susah bagi seorang pendengar awam untuk menerjemahkan liriknya dalam bahasa lain. Secara tak langsung ada konteks budaya dan sastra di dalam lirik-lirik Sal Priadi, termasuk dalam lagu “Nyala.”

Secara instrumental, lagu “Nyala” versi studio jauh berbeda dengan versi live. Alunan piano pembuka Arnold Pontoh digantikan oleh suara gemercik api, membiarkan vokal Sal bersinar dengan sendirinya. Instrumen selain gemercik api dan vokal baru muncul setelah menit pertama, dimana keyboard dan biola mengalun menemani vokal. Komposisinya mungkin akan mengingatkan orang akan soundtrack sinetron, atau adegan-adegan sinetron mertua marah, janda berdendam dan sebagainya. Ya, inilah satu dari banyak hal nyeleneh yang diberikan Sal dalam repertoarnya; seperti “Bayangkan betapa cantik dan lucunya / Gemuruh petir ini / Disanding rintik rintik yang gemas” di “Amin Paling Serius,” elemen kontras yang membuat pendengar kaget pada pendengaran pertama akan lebih dipahami jika mereka mendengarkan lagu Sal lebih dari satu kali saja. (Saya pun menyadari, keyboard dengan gaya soundtrack sinetron ini sangat masuk dengan lirik “Nyala” yang melodramatis dan hiperbolik.)

Meskipun lagu ini lebih dari lima menit, “Nyala” tidak pernah kehilangan momentumnya. “Dengarlah tidak kau suara itu?” tanya Sal berkali-kali dalam instrumentasi yang makin intens, sebelum berakhir dengan “Itu suara retaknya nyalaku,” diikuti oleh suara nada tinggi seperti denging telinga. Denging telinga setelah mendengar suara keras—seperti setelah menyaksikan peristiwa yang mencekam, yang tidak tahu asalnya dari mana.

Tujuh bulan setelah mendengar lagu ini pertama kali, enam bulan setelah rasa patah hati, Sal Priadi akhirnya merilis soundtrack dari perasaan saya dalam versi studio. Perasaan itu memang sudah lewat, segala tragedi ditambah waktu sudah menjadi komedi, namun perasaan dalam “Nyala” tetap nyata dan ada.

Dengarkan “Nyala” di sini:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s